Senin, 08 Agustus 2011

Laporan Pendahuluan Halusinasi


LAPORAN PENDAHULUAN
HALUSINASI


I.     KASUS (MASALAH UTAMA)
A.    PENGERTIAN
Halusinasi adalah persepsi tentang objek bayangan dan sensori yang timbul tanpa stimulasi eskternal. Halusinasi dapat terjadi pada klien gangguan mental organik, psikis, sindrom putus obat, keracunan dan gangguan tidur.

B.     FAKTOR PENYEBAB
Halusinasi pada seseorang timbul akibat adanya 2 macam faktor, yaitu faktor predisposisi dan presipitasi.
1.    Faktor predisposisi
Faktor yang mungkin mengakibatkan halusinasi adalah aspek biologis, psikologis dan sosial.
a.    Biologis
Gangguan perkembangan dan fungsi otak/sistem saraf pusat dapat menimbulkan gejala seperti:
­       Hambatan perkembangan, khususnya : korteks frontal dan temporal.
­       Pertumbuhan dan perkembangan individu pada prenatal, perinatal, neonatus dan kanak-kanak
b.    Psikologis
Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi respon psikologis dari klien, sikap atau keadaan yang dapat mempengaruhi antara lain penolakan atau kekerasan dalam kehidupan klien.
c.    Sosial budaya
Kehidupan sosial budaya dapat pula seperti kemisikinan, konflik sosial budaya kehidupan yang terisolasi disertai dengan stress yang menumpuk.
2.    Faktor prepitasi
Umumnya sebelum timbulnya gejala klien mengalami hubungan yang bermusuhan, tekanan isolasi, pengangguran yang disertai stress yang menumpuk, perasaan tidak berguna dan tidak berdaya disertai putusa asa.
C.    GEJALA
Klien dengan halusinasi cenderung menrik diri, sering didapatkan duduk terpaku dan pandangan mata pada satu arah tertentu, tersenyum atau bicara sendiri serta tiba-tiba marah gelisah melakukan gerak, sedang menikmati sesuatu.
D.    JENIS HALUSINASI
1.    Halusinasi Pendengaran
Mendengar suara berkisar dari suara sederhana sampai dengan suara yang berbicara mengenai klien. Kadang-kadang suara memerintah untuk melakukan hal yang berbahaya.
2.    Halusinasi Penglihatan
Penglihatan dapat yang menyenangkan atau menyakitkan.
3.    Halusinasi Penciuman
Mencium bau busuk, amis dan bau yang menjijikkan dan kadang tercium bau harum.
4.    Halusinasi Pengecapan
Merasakan sesuatu yang busuk dan berbau yang menjijikkan.
5.    Halusinasi Peraba
Mengalami sakit atau tidak enak tanpa stimulus.

II.   PROSES TERJADI MASALAH
Halusinasi berkembang menjadi 4 fase :
a.    Fase pertama
Pada fase ini klien mengalami kecemasan, stress,perasaan yang terpisah, kesepian,klien mungkin melamun atau memfokuskan pikiran pada hal yang menyenangkan untuk menghilangkan kecemasan dan stress, cara ini menolong sementara, klien masih dapat mengenalpikiran dan keberadaan serta intensitas persepsi meningkat.
b.    Fase kedua
Kecemasan meningkat dan berhubungan dengan pengalaman internal, klien berada pada tingkat listening pada halusinasi, pemikiran internal menjadi menonjol, seperti gambaran suara dan sensori. Halusinasi dapat bersifat tidak jelas. Klien takut apabila mendengar, klien merasa tidak mampu mengatasinya, klien membuat jarak antara dirinya dan halusinasi dengan memproyeksikan seolah-olah berhalusinasi datang dari orang lain atau tempat lain.
c.    Fase ketiga
Halusinasi tidak menonjol dan mengontrol klien dan tidak berdaya pada halusinasinya.
d.   Fase keempat
Klien merasa terpaku dan tidak berdaya melepaskan diri pada control halusinasinya. Halusinasi yang sebelumnya menyenangkan berubah menjadi mengancam.

RENTANG RESPON NEOROLOGIK
Respon mal adaftif
­       Pikiran waham

­       Halusinasi
­       Kerusakan proses emosi

­       Perilaku tidak terorganisir
­       Isolasi sosial

­       Kadang proses pikir terganggu
­       Ilusi
­       Emosi berlebihan / kurang

­       Perilaku yang tidak biasa
­       Menarik diri
Respon adaftif
­       Pikiran logis

­       Persepsi akurat
­       Emosi konsistensi dengan pengamatan
­       Perilaku cocok

­       Hubungan sosial

III.  A. POHON MASALAH
 




















     B. PENGKAJIAN
­       Faktor Individu
Hal-hal yang perlu dikaji pada klien :
1.      Bagaimana klien menjelaskan perasaan yang dialaminya.
2.      Bagaimana klien mengatakan gangguan  halusinasinya dan respon klien terhadap halusinasinya.
3.      Apakah ada keserasian antara afek dan ucapan-ucapan klien.
4.      Siapakah yang merupakan teman dekat klien.
5.      Apakah klien termasuk orang-orang yang slah menggunakan obat.
6.      Apakah ada hambatan pada tugas perkembangan klien.
7.      Bagaimana klien menghadapi stressor yang dialaminya.

­       Faktor Keluarga
1.      Posisi klien dalam keluarga.
2.      Bagaimana reaksi keluarga terhadap situasi.
3.      Bagaimana pola komunikasi dalam keluarga.
4.      Apakah ada anggota keluarga klien yang masuk rumah sakit karena ganggua jiwa /mental.

­       Faktor Lingkungan
1.      Apa latar belakang pendidikan klien.
2.      Riwayat pekerjaan klien.
3.      Bagaimana situasi sosial, ekonomi keluarga klien.
4.      Apa latar belakang budaya dan kepercayaan klien sesuai dengan sistem sosial di mana mereka tinggal.
5.      Apa kegiatan kelompok dimasyarakat yang klien ikuti.
6.      Bagaimana hubungan interpersonal klien.

IV.  DIAGNOSA KEPERAWATAN
a.    Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan.
b.    Perubahan persepsi sensori.
c.    Koping individu tidak efektif.
d.   Isolasi sosial : menarik diri.
e.    Menurunnya motivasi perawatan diri.
f.     Defisit perawatan diri


V.   RENCANA TINDAKAN KPERAWATAN
TUK 1   :  Bina hubungan saling percaya
­       Buat kontak dengan klien, memperkenalkan nama perawat, tujuan dan waktu interaksi.
­       Ajak klien bercakap-cakap dengan memanggil nama panggilan klien untuk menunjukkan perhatian yang tulus pada klien.
­       Jelaskan pada klien bahwa informasi tentang pribadi klien tidak akan diberitahukan kepada orang lain yang tidak berkepentingan.
TUK 2   : Bantu klien mengenal halusinasinya
­       Adakan kontak sering dan bertahap.
­       Observasi tingkah laku klien terkait halusinasinya.
­       Bantu klien mengenal halusinasinya.
­       Diskusikan dengan klien apa yang dirasakan jika terjadi halusinasi (marah, takut, sedih, tenang)
TUK 3   :  Ajarkan cara mengontrol halusinasi
­       Identifikasi bersama klien cara tindakan yang dilakukan jika terjadi halusinasi.
­       Diskusikan cara baru untuk menentukan atau mengontrol timbulnya halusinasi.
­       Diskusikan manfaat dan cara yang digunakan klien, jika  bermanfaat, beri pujian.
­       Bantu klien memilih dan melatih cara pemutusan halusinasi secara bertahap.
­       Beri kesempatan untuk melakukan cara-cara yang telah dilatih, evaluasi hasilnya dan beri pujian bilaberhasil.
­       Anjurkan klien mengikuti TAK, stimulus persepsi.
TUK 4   :  Klien mendapat dukungan darikeluarga dalam mengontrol halusinasinya.
­       Anjurkan klien untuk memberitahukan keluarga jika mengalami halusinasi.
­       Diskusikan dengan keluarga :
a.    Gejala halusinasi.
b.    Cara yang dilakukan klien atau keluarga untuk memutus halusinasi.
c.    Cara merawat keluarga yang berhalusinasi.


TUK 5   : Klien dapat memanfaatkan obat dengan benar.
­       Diskusikan dengan keluarga tentang dosis, frekuensi dan manfaat obat.
­       Anjurkan klien meminta sendiri obat pada perawat dan merasakan manfaatnya.
­       Ajarilah klien bicara dengan dokter tentang manfaat dan efek samping obat.
­       Diskusikan akibat terhentinya obat.
­       Bantu klien menggunakan obat dengan prinsip 5 benar.




























DAFTAR PUSTAKA


Carpenito, Lynda Juall. 1998. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC
Kelliat, B. A. 1999. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta : EGC
Rawlina. RP dan Patricia Evant Heacook. 1998. Clinical Manual of Psychiatric Nursing. St. Laurs : Mothy Year Book.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar